Status
Tahun
Skala
Lokasi
Kawasan Istana Kepresidenan di Ibu Kota Nusantara (IKN) dirancang sebagai pusat pemerintahan masa depan, yang merefleksikan nilai-nilai kebangsaan, kepemimpinan, dan adaptasi terhadap alam tropis Kalimantan Timur. NuArt Consultant berperan dalam pengembangan basic design kawasan seluas 55,8 Ha ini, mengikat 11 massa bangunan utama menjadi satu kesatuan sistemik yang berwibawa dan berkelanjutan.
Filosofi desain kami berpusat pada respons terhadap topografi berbukit, di mana setiap bangunan—mulai dari Kantor Presiden di elevasi tertinggi hingga Lapangan Upacara yang diratakan dengan cut and fill—diciptakan untuk membaur adaptif dan menghormati kontur alami (Form Follows Flow).
Kesinambungan fungsi dan simbolisme terlihat jelas: Istana Garuda berada di bawah naungan filosofis Kantor Presiden (Sosok Garuda), sementara Masjid Kepresidenan dan Bangunan Edukasi menjadi titik kontras yang memancarkan spiritualitas dan wawasan. Secara keseluruhan, Kawasan ini adalah perwujudan visi Bapak Nyoman Nuarta tentang ruang pemerintahan yang berkarakter, efisien secara fungsi, dan berharmoni secara visual dengan ekosistem Nusantara.
Ide & Tantangan Kontur: Lapangan Upacara dirancang untuk menampung hingga 5.000 orang dalam kegiatan kenegaraan formal. Tantangan utama adalah kondisi kontur lahan yang berbukit. Solusi arsitektural dikembangkan melalui strategi cut and fill yang presisi pada lahan berkontur, menciptakan bidang datar seluas minimal 30.000 m² yang dibutuhkan, sembari meminimalisir intervensi lahan dengan menempatkannya di antara dua tebing alami.
Konsep Ruang: Penempatan Lapangan Upacara berada di bagian terdepan Kawasan Istana Kepresidenan dan tepat pada sumbu Kebangsaan. Meskipun formal, desainnya dinamis dengan elemen sirkulasi melengkung dan penambahan elemen air sebagai aksen, menciptakan ruang terbuka hijau yang *environmental friendly*.
Ide Perlindungan & Nilai Luhur: Massa Istana Kepresidenan ditempatkan sesudah Lapangan Upacara, berfungsi sebagai bangunan Resmi untuk kegiatan Presiden, termasuk pelantikan dan penerimaan tamu negara. Posisi Istana berada tepat di depan sosok Garuda (Kantor Presiden), mengartikan bahwa Istana berada di bawah **lindungan dan naungan filosofis** Garuda, simbol persatuan dan kedaulatan bangsa.
Konteks dan Fungsi: Massa Istana diletakkan di antara Lapangan Upacara dan Kantor Presiden untuk memastikan keterhubungan yang dekat dan keselarasan dengan **Sumbu Kebangsaan**. Penggunaan Istana Negara dirancang untuk menampung berbagai kegiatan resmi kenegaraan, mulai dari pelantikan pejabat hingga jamuan resmi, di bawah semangat persatuan dan persaudaraan.
Massa Bangunan dan Adaptasi Topografi: Bentuk massa Istana bersifat geometris untuk menjaga kesan formal. Massa Istana beradaptasi dengan kontur berbukit, dirancang agar berada pada dataran yang rata, namun dengan penyesuaian level lantai (*semi-basement*) untuk **menghindari pengurugan tanah berlebihan** (maksimal 2 meter).
Tampilan dan Simbolisme: Tampilan bangunan Istana dibuat berkesan formal dan wibawa dengan implementasi dan dominasi **34 kolom tinggi** berjajar tepat di wajah depan—merepresentasikan jumlah provinsi Indonesia. Bentuk atap merupakan pengulangan dari siluet Garuda di belakangnya, menciptakan **kesinambungan bentuk dan filosofi**. Aksen pada kolom dan sistem pencahayaan khusus (*LED Tunable White*) diterapkan untuk memberikan kesan yang kuat dan mengubah suasana lobi dari hangat ke putih, menekankan karakter resmi Istana.
Lokasi Strategis dan Visi Kebangsaan: Kantor Presiden ditempatkan pada elevasi tertinggi di kawasan, yaitu 88 mdpl. Posisi ini memastikan Kantor Presiden berada di pusat Sumbu Tripraja dan Sumbu Kebangsaan, mencerminkan peran sentralnya dalam kepemimpinan nasional.
Ditempatkan di area tertinggi, bangunan ini juga berfungsi sebagai Titik Orientasi (*Point of View*) yang memandang ke seluruh Kawasan Istana Kepresidenan.
Massa Bangunan dan Ekspresi Kewibawaan: Bentuk bangunan dirancang dengan komposisi yang cermat untuk merepresentasikan keagungan institusi dan kewibawaan negara. Tata ruang dalam dirancang untuk mendukung fungsi kepresidenan, ditampilkan melalui dimensi yang proporsional, seperti ketinggian langit-langit (9 meter) dan jarak antar kolom (8 meter) pada lobi utama. Desain bangunan dibuat bertingkat secara adaptif untuk menyesuaikan topografi alami lokasi.
Ide Harmoni dan Privasi: Karena kondisi topografi yang berbukit, perancangan Paviliun Presiden membutuhkan solusi strategis. Konsep desain berpusat pada **Building Meets Nature**, berlandaskan Biophilic Design, untuk menciptakan keselarasan optimal dengan lingkungan sekitarnya. Paviliun dikelilingi vegetasi hijau untuk menjaga privasi Presiden saat berkegiatan.
Massa Bangunan Adaptif: Gubahan massa terdiri dari tiga bentuk geometris dasar (persegi dan lingkaran) yang disatukan menjadi komposisi linear. Melalui permainan volume aditif dan subtraktif, massa bangunan tampil fungsional namun dinamis, dengan elemen lengkung di area tertentu. Paviliun ditempatkan di area puncak untuk mendapatkan pandangan (*view*) terbaik.
Tampilan dan Respon Iklim: Fasad Paviliun dirancang sederhana, tidak mencolok, dan *respect* terhadap alam. Fasad berwarna putih dominan dengan aksen warna alam (kayu) dan kontras (abu-abu/hitam), menampilkan karakter **elegan dan minimalis** yang menyatu dengan alam. Respon terhadap iklim tropis diwujudkan melalui:
Konsep Kontras dan Spiritual: Konsep arsitektur Masjid Presiden didasarkan pada konteks situs: berada di atas lembah berkontur, dikelilingi pepohonan padat. Bangunan dirancang dengan karakter **sederhana** (massa berkubah dan nuansa terang/putih) untuk menciptakan **kontras visual** yang menenangkan terhadap hijaunya lingkungan sekitar.
Zonasi dan Aksesibilitas: Masjid ini terletak strategis, dapat diakses dengan berjalan kaki atau *buggy car*, berada di antara Kantor Presiden (Timur) dan Paviliun Presiden (Barat). Massa bangunan utama terbagi menjadi dua volume: bagian berkubah (Ruang Salat dan Wudhu) dan bentuk persegi panjang (Ruang Tunggu Presiden/Wakil Presiden) yang bersandar pada kontur yang menjulang di sisi Utara. Area drop-off kendaraan diletakkan berjarak untuk mengatur alur pengunjung menuju Ruang Salat.
Selubung Cahaya (Konsep Lampion): Lapisan terluar Masjid diselubungi oleh **perforated metal panel berpola** (laser cut) berwarna putih terang, yang berfungsi sebagai selubung pengatur cahaya, panas, dan keamanan. Di ruang dalam, *sandblast sticker* berpola memfilter visibilitas. Porositas selubung ini memungkinkan bangunan memancarkan cahaya di malam hari, mengadopsi **Konsep "Lampion"**—simbol dari QS. An-Nur Ayat 35—yang memberikan "terang" dan petunjuk, sekaligus memberikan identitas "Nusantara" di siang hari.
Bangunan berwarna putih terang ini mengedepankan **ventilasi alami** melalui banyak bukaan, koridor, dan selasar, menjaga kenyamanan dan kebersihan ruang ibadah.
Konsep Tapak dan Kontras: Gedung Sekretariat Presiden dirancang merespons kondisi tanah yang berkontur dan memanjang pada tapak, terbagi menjadi beberapa massa bangunan. Untuk menciptakan kontras yang elegan terhadap vegetasi hijau IKN, bangunan ini mengombinasikan dua material utama: kaca dan dinding solid berwarna abu.
Massa Berundak dan Integrasi Topografi: Meskipun dari tampak depan massa terlihat sederhana (hanya satu lantai), tampak belakang memperlihatkan perpaduan massa bangunan yang berundak dan berintegrasi dengan kondisi topografi. Bentuk berundak ini didukung oleh perbedaan besaran massa dan ketinggian bangunan, menunjukkan respons adaptif terhadap dinamika lahan.
Tampilan, Material, dan Filosofi: Konsep tampilan bangunan mengusung gaya minimalist modern yang sederhana. Dinding solid dipecah oleh elemen segitiga, yang merupakan simplifikasi ekspresi seni dari pola batik Kalimantan. Selain aspek estetika, elemen ini juga berfungsi memberikan bukaan untuk ventilasi dan pencahayaan alami yang optimal. Bangunan ini dirancang untuk membaur secara adaptif dan menyatu dengan alam melalui rekayasa galian dan timbunan yang minim.
Konsep Dasar: Kantor Staf Khusus didasarkan pada konsep Form Follows Flow. Konsep ini diterapkan karena kondisi aliran kontur yang menurun dan melengkung di lokasi tapak. Bentuk massa bangunan muncul dari garis kontur, memberikan kesan dinamis dan menyatu dengan kondisi alaminya.
Gedung ini mencerminkan prinsip bahwa bangunan tidak melawan alam yang sudah ada, tetapi beradaptasi untuk menciptakan bentuk yang fungsional dan dinamis.
Tampilan dan Penanda Khusus: Gedung Kantor Staf Khusus menampilkan fasad yang berbeda dari gedung-gedung lain di kawasan. Tampilan ini dicirikan oleh elemen garis berirama dan penggunaan warna cokelat kayu sebagai penanda khusus, yang mempermudah pengenalan gedung ini di dalam komplek.
Ide Penghormatan dan Konteks Tropis: Bangunan Wisma Negara dirancang sebagai akomodasi hunian sementara bagi tamu negara. Penempatan posisinya yang berada di depan dan sejajar dengan Paviliun Presiden bertujuan untuk menghargai dan menghormati para tamu negara.
Konsep Arsitektur Berkelanjutan: Pendekatan desain mengedepankan konsep modern tropical yang -hommy, sekaligus menerapkan prinsip sustainability design. Hal ini dicapai melalui passive design building yang tanggap terhadap kondisi iklim dan tapak, memastikan pemakaian energi pada bangunan lebih efektif dan efisien.
Zonasi dan Massa Bangunan: Tata massa bangunan dirancang menyesuaikan hirarki ruang dan kontur tapak, mulai dari area semi-publik di depan hingga area privat di level yang lebih rendah. Massa bangunan diletakkan pada ketinggian yang hampir sejajar dengan Paviliun Presiden, selain sebagai bentuk penghormatan, juga mempertimbangkan aspek keamanan.
Tampilan dan Material: Tampilan arsitektural diperkuat melalui penggunaan material lokal dan implementasi green terrace yang membawa elemen lanskap ke dalam bangunan, memperkuat karakter arsitektur Indonesia. Penggunaan material kaca pada kamar VVIP dan VIP dimaksimalkan untuk menghadirkan suasana nyaman (hommy) dan mengoptimalkan pemandangan di lingkungan sekitar.
Ide Organik dan Koneksi: Bangunan Edukasi mengadopsi Bahasa Bentuk dan Pola Penataan Ruang yang organik, yang berfungsi sebagai benang merah arsitektural yang menghubungkan bangunan di kawasan Istana Kepresidenan. Ini dirancang sebagai pusat edukasi publik, museum, dan teater.
Adaptasi Topografi dan Solusi Teknis: Massa bangunan berada di lahan paling belakang komplek, pada ketinggian bukit (+63 m). Dengan perbedaan elevasi yang signifikan, desain bangunan dibuat **terasiring** dan berorientasi turun ke lembah, merespon kontur secara cermat. Solusi konstruksi, termasuk penggunaan dinding penahan tanah (DPT), diperlukan untuk mengatasi posisi bangunan pada lereng.
Konsep Massa dan Identitas: Gubahan massa berbentuk organik. Bagian atas bangunan didominasi oleh ruang teater, yang dijadikan **bentuk identitas** utama untuk mendefinisikan bangunan. Desain ini secara dinamis memisahkan fungsi ruang per lantai dan menarik perhatian publik, termasuk tamu kehormatan dan pengunjung umum.
Tampilan, Iklim, dan Wawasan: Bangunan dirancang dengan pendekatan arsitektur tropis yang menekankan **ventilasi silang** (*cross ventilation*) dan pemandangan (*view*) tak terbatas ke vegetasi lembah. Fasad menggunakan **metal panel berpola dan berpori** yang mengekspresikan material ringan.
PT NuArt Consultant menghadirkan solusi inovatif dan berkelanjutan dalam setiap proyek. Dari tahap konseptual hingga realisasi, kami menggabungkan seni, teknologi, dan ketelitian untuk menjawab kebutuhan klien. Solusi kami tidak hanya estetis, tetapi juga fungsional, relevan, dan berdampak sosial. Dengan ekosistem yang melibatkan arsitek, seniman, desainer, dan teknisi, setiap karya lahir dari kolaborasi yang visioner.

Kami mengembangkan ide kreatif berdasarkan visi klien, konteks budaya, dan simbolisme yang kuat untuk karya monumental.

Ide awal ditransformasikan menjadi desain yang komprehensif, meliputi bentuk, material, struktur, dan integrasi dengan lingkungan.

Tim kami mendampingi pelaksanaan di lapangan, memastikan kualitas, akurasi teknis, dan keselarasan dengan konsep artistik awal.